Senin, 23 Mei 2016

Air dan Minyak?

Sekarang, detik ini aku ragu untuk melangkah lebih jauh bersamanya
Aku menjadi tidak yakin dengan keadaan seperti ini, meskipun perasaan ini masih seutuhnya miliknya
Sudah berapa ratus kali air mataku mengalir untuknya
Sudah berapa panjang waktu yang ku habiskan dengannya
Sudah berapa banyak kenangan yang ku buat bersamanya
Sudah berapa banyak orang yang kami sakiti demi hubungan ini
Apakah sekarang sudah tidak ada artinya lagi itu semua untuk kita?

Lagi, menangis. Teruslah menangis lias, teruskan... jika memang itu melegakan mu sementara. Tapi, apakah kau mau seperti ini terus? Hubungan macam apa yang aku jalani sekarang Tuhan? Aku gak pernah berpikir kejadiannya seperti ini, mengalami perasaan seperti ini

Apa kita cocok? kayaknya sih enggak atau belum.. Kita belum dan bahkan mungkin (dari selama ini), kita tidak saling mengerti dan memahami satu sama lain. Kita hanya sekadar bersama, tetapi bukan bersatu. Kita bagaikan air dan minyak. Mereka bisa bersama dalam satu tempat, tapi mereka tidak bisa melebur jadi satu, tetap terpisah. Apa kita sama dengan air dan minyak itu? tidak peduli siapa diantara kita yang jadi minyak atau air, tapi apa kah kita demikian?

Aku ilfil sekali Tuhan, aku takut dengan perasaan seperti ini yang terus menerus tetap bertahan, hubungan kami berakhir, benar-benar berakhir.. Aku ingin bertahan dan sudah ku coba untuk bertahan, tapi mengapa tidak ada hasil?

Percuma ku rasa selama ini aku mengutarakan apa yang aku rasakan. Kadang diam dan menarik diri lebih baik dibandingkan berbicara mengutarakan perasaan. Apa aku bisa melanjutkan hubungan ini Tuhan?

Selasa, 03 Mei 2016

Untold Feelings

Hemmm
Aku tau, aku menyadari kalau aku adalah orang yang penuh dengan rasa cemburu ternyata. Cemburu ketika pasangan ku dekat dengan wanita lain. Bahkan yang sudah dianggapnya seperti adik kandung pun bisa ku cemburui. Bukan masalah perempuannya, tapi masalahnya ada di pasangan ku ini. Aku merasa seperti ini karena dia bisa memprioritaskan orang lain dalam hiudpnya. Jujur aku tidak bisa bersama dengan orang seperti ini, hanya saja kenyataan brekata lain. Sampai saat ini, detik ini, aku masih bersamanya, orang yang sangat ku kasihi. Beberapa hari yang lalu aku bertanya, mungkin seminggu yang lalu kl ga salah. Aku nanya, "apakah aku menghalangi beberapa sisi kehidupannya? kl iya berapa persen". Aku bertanya begitu karena aku sadar, aku merasa dengan adanya rasa cemburuku, aku seolah-olah menghambat pergaulan dan sikapnya kepada orang lain. Aku tidak ingin menjadi penghambat hidup orang lain. Kl memang dia ingin menjaga jarak dengan orang lain, biarlah itu dia lakukan atas keinginan dan kesadarannya dia aja. Aku ga mau sebagai tembok pemisah kehidupannya. Dan tahukah kalian jawabannya apa? Jawabannya adalah "ya, 40%".

Seketika air mata terus mengalir. Tidak bisa ku bendung. Aku seperti mendapat luka pada bagian yang sama, luka diatas luka.

Entah pikiran apa yang sedang ku alami sekarang. Yang pasti aku merasa berbeda dengan adanya jawaban 40%. Hampir setengahnya aku menjalani hubungan dengan orang yang selama ini terhambat oleh ku. Jujur aku sedih, aku kecewa. Tapi aku yakin Tuhan selalu mendengarkan doa-doaku selama ini. Tuhan pasti sudah mendengarkan doaku jauh sebelum aku menjalin hubungan ini dengannya. Jauh ketika aku masih memohon-mohon pada Tuhan agar dia hadir dalam hdiupku seperti sekarang.

Baru-baru ini aku merasa sesak di dada. Aku melihat foto yang dimasukkan oleh temanku di akun instagram dan facebook, ada fotonya. Hemm, aku kesal sekali. Tapi aku tahan semuanya dalam hati, aku tahan. Aku tidak bisa meluapkan emosiku pada dia, krn aku takut semakin menghambat atau menghalangi atau menjadi tembok yang lebih besar lagi untuk hidupnya. Terimakasih.